3 mins read

Meraih Sehat yang Utuh: Mengaktifkan “Hormon Bahagia” sebagai Ikhtiar Iman

Oleh: Firnas

Ahad pagi (19/10/2025) yang tenang di Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan, diwarnai dengan sebuah ceramah kesehatan yang tak biasa. Dr. Eko S. Machfur, praktisi kesehatan yang dikenal karena inovasi pelayanannya, membawakan topik menarik bertajuk “Meraih Sehat dengan Bahagia.” Ceramah ini berhasil menjembatani pandangan medis modern dengan nilai-nilai spiritual Islam, menegaskan bahwa sehat sejati adalah kesatuan jiwa dan raga sebuah ikhtiar iman yang perlu disadari setiap Muslim.

Melampaui Definisi Fisik: Dari Shiha Menuju ’Afiat

Dr. Eko membuka ceramah dengan menjelaskan bahwa konsep sehat dalam Islam jauh melampaui makna sempit shiha (kondisi fisik bebas penyakit). Ia memperkenalkan konsep yang lebih menyeluruh, yaitu ’afiat, yang berarti keselamatan dan perlindungan dari segala penyakit, bencana, serta musibah, baik di dunia maupun di akhirat.

Pandangan ini menempatkan upaya menjaga kesehatan sebagai bagian integral dari kewajiban seorang Muslim ikhtiar yang sejalan dengan doa-doa harian yang memohon keselamatan badan, pendengaran, dan penglihatan.

Pilar-pilar kesehatan fisik yang ia sampaikan bersifat praktis dan mendasar: gizi seimbang, aktivitas fisik teratur, istirahat cukup, pengelolaan stres, serta menjaga kebersihan. Namun, sorotan utama ceramah ini justru terletak pada ranah psikologis, yang sering kali diabaikan dalam pencapaian kesehatan.

Kekuatan Pikiran dan Jembatan Hormon Bahagia

Keterkaitan antara pikiran dan tubuh diulas mendalam melalui fenomena psikosomatis. Dr. Eko menjelaskan bagaimana gejala fisik seperti rasa sakit atau lumpuh dapat muncul meskipun secara medis tidak ditemukan penyakit. Hal ini menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh stres, emosi, dan pikiran terhadap kondisi biologis seseorang.

Dalam konteks inilah, Dr. Eko memperkenalkan kunci penting: “Hormon Bahagia.” Ia menjelaskan bahwa kesehatan utuh jasmani, rohani, dan sosial dapat dicapai ketika empat hormon utama diaktifkan secara optimal:

  • Dopamin (motivasi dan kesenangan), dirangsang melalui penyelesaian tugas dan pencapaian.
  • Serotonin (ketenangan dan suasana hati), diaktifkan melalui ibadah, doa, meditasi, dan tadabbur alam.
  • Endorfin (pereda nyeri alami), dihasilkan dari tertawa dan berolahraga.
  • Oksitosin (ikatan dan rasa aman), diperkuat melalui sentuhan, pelukan, dan hubungan sosial yang hangat.

Islam, menurutnya, telah menyediakan mekanisme alami untuk mengaktifkan sebagian besar hormon ini, terutama serotonin, melalui praktik spiritual seperti shalat khusyuk, zikir, dan tadabbur alam. Dengan demikian, ibadah bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan juga “resep biologis” untuk menjaga kesehatan mental dan emosional.

Kita tidak perlu mencari “healing” ke luar, sebab kunci kebahagiaan sejati sudah terkandung dalam ajaran agama kita.

Keteguhan Ikhtiar dan Keindahan Qana’ah

Ceramah ditutup dengan pesan spiritual yang kuat mengenai sikap menghadapi ujian kesehatan. Dr. Eko mengingatkan pentingnya sikap qana’ah (menerima dengan lapang dada) terhadap takdir Allah, termasuk ketika diuji dengan sakit. Penerimaan ini, katanya, dapat mentransformasi penderitaan menjadi sumber pahala dan ketenangan batin, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

Ayat penutup yang diangkat, Q.S. Al-Anfal: 60, berbicara tentang “kekuatan.” Menurut Dr. Eko, kekuatan yang dimaksud tidak hanya fisik, tetapi juga kekuatan dalam menjaga kesehatan dan kesabaran menghadapi cobaan. Tugas manusia adalah berikhtiar secara maksimal menjaga jasmani dan rohani, lalu bersabar serta bersyukur ketika ujian datang.

Kesimpulan

Ceramah Dr. Eko S. Machfur bukan sekadar seminar kesehatan biasa, tetapi ajakan untuk ber-Islam secara holistik. Ia menegaskan bahwa mencapai sehat sejati (’afiat) berarti mengawinkan sains (aktivasi hormon) dengan spiritualitas (ibadah dan qana’ah).

Kebahagiaan bukanlah bonus, melainkan prasyarat bagi kesehatan yang utuh. Untuk meraihnya, setiap Muslim harus aktif berikhtiar, menjaga keseimbangan antara jasmani dan rohani, serta berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian, setiap tarikan napas menjadi ibadah, dan setiap langkah menjaga kesehatan menjadi jihad kecil di jalan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *