
Pendamping UMKM, Profesi Strategis di Balik Sukses Ekspor dan Digitalisasi Usaha
JAKARTA, Politeknik STIA LAN — Di tengah ambisi pemerintah mendorong produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menembus pasar nasional hingga global, peran sosok di balik layar menjadi kian krusial: profesi pendamping UMKM. Seminar inspiratif (offline dan online) yang digelar Politeknik STIA LAN Jakarta, Rabu (15/10/2025), mengungkap bahwa pendamping bukan sekadar mentor, melainkan katalisator yang wajib beradaptasi dengan era digital serta memiliki kompetensi ganda.
Dari Sharing Profit hingga Ekspor ke Jepang
Samsi Subiyanto, S.E., dari Asosiasi Profesi Pendamping Entrepreneur Indonesia (ASPPENDO), menjelaskan bahwa asosiasi yang masih berusia muda ini bertujuan memastikan UMKM di seluruh Indonesia mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga Jawa memiliki akses terhadap bantuan profesional.
“Untuk UMKM mikro, pendampingan kami biasanya pro bono atau gratis,” ujar Samsi. Namun, mekanisme imbal jasa akan berubah jika UMKM berhasil naik kelas. Jika produk UMKM sukses menembus pasar ekspor, pendamping berhak mendapatkan persentase keuntungan (sharing profit) sebagai bentuk apresiasi profesional.
Ambisi menembus pasar global ini bukan isapan jempol. ASPPENDO telah menjalin kerja sama dengan supermarket Jepang, AEON BSD, di mana produk UMKM yang ingin dijual dan berpotensi diekspor harus melalui proses kurasi ketat oleh asosiasi. Langkah ini menjadi pintu gerbang penting, sebab penerimaan produk di pasar ritel lokal yang terstandar dianggap sebagai tahap awal menuju pengakuan di mancanegara.

Tantangan Literasi dan Kompetensi Ganda
Profesi pendamping kini bukan lagi pekerjaan sampingan. Sebaliknya, profesi ini menawarkan prospek karier yang menjanjikan, terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Hampir seluruh instansi pemerintah mulai dari kementerian, dinas, hingga Bank Indonesia kini diwajibkan menyertakan pendamping dalam setiap program UMKM.
Namun, tantangannya tidak kecil. Samsi menyoroti dua isu utama:
- Literasi digital dan keuangan UMKM. Mayoritas pelaku UMKM senior masih gaptek (gagap teknologi) dalam hal pemasaran digital (seperti TikTok dan e-commerce) dan, yang lebih parah, masih buta literasi keuangan. “Banyak UMKM menganggap keuntungan usaha adalah gaji mereka sebagai pengusaha,” ungkap Samsi. Pendamping harus mengajarkan standar akuntansi dasar, mulai dari memisahkan gaji pribadi dari laba usaha hingga menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan benar.
- Keterbatasan SDM dan metodologi. Jumlah pendamping tersertifikasi di Indonesia masih sangat sedikit dan tidak sebanding dengan jumlah UMKM yang harus didampingi. Selain itu, pendamping harus menguasai empat metodologi inti: mentoring, coaching, training, dan consulting, serta mampu memilih metode yang tepat. “Kita nggak bisa meng-coaching UMKM yang pendidikannya hanya SD atau SMP. Mereka datang untuk dibantu, bukan untuk ditanya-tanya,” tegas Samsi.
Masa Depan Karier: Sertifikasi BNSP dan AI
Untuk menjadikan profesi ini resmi dan terstandarisasi, Samsi mendorong mahasiswa agar meraih Sertifikasi Kompetensi Pendamping Usaha dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikasi ini menjadi nilai tambah signifikan bagi lulusan agar lebih mudah direkrut dalam berbagai program pemerintah.
Pengembangan karier pun memiliki jalur yang jelas: seorang pendamping dapat meniti karier dari mendampingi usaha mikro, kecil, menengah, hingga usaha besar dengan honorarium yang bisa mencapai dua digit.
Ke depan, tantangan profesional akan semakin berat. Tren masa depan menuntut pendamping tidak hanya melek digital, tetapi juga wajib menguasai kecerdasan buatan (AI). Asosiasi seperti ASPPENDO bahkan telah menyediakan pelatihan gratis secara daring sebagai upaya berkelanjutan untuk mencetak pendamping yang tidak hanya tangguh di lapangan, tetapi juga selalu update di ranah teknologi.
Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa kesuksesan UMKM Indonesia sangat bergantung pada kesediaan para profesional muda untuk terjun, berkolaborasi, dan menguasai ilmu pendampingan.
